Sabtu, 02 Agustus 2014

23 Juli 2014 untold note

Malam ini, aku diperlihatkan sebuah foto. Foto kamu dengan Sari. Selamat menjalin silaturahmi :)

Aku sakit hati? Ya! Entah, rasanya sedikit sesak. Tapi, kini aku ingin mencoba mencintai dengan logika. Aku lelah terlalu larut dalam perasaan. Aku lelah terlalu berharap. Aku lelah dipermainkan.

Dalam foto itu kalian begitu dekat. Begitu bahagia. Berbeda dengan ucapanmu waktu itu. Kamu bilang hubungan kalian tidak baik. Kamu bilang kamu sudah tidak ada hubungan dengan siapapun. Kamu bilang... Ah sudahlah. Aku rasa perkataanmu kala itu hanya sebuah kekhilafan.

Dear Allah. Aku ingin jatuh cinta. Aku rindu memiliki semangat menggebu karena cinta. Aku rindu memiliki dambaan hati.
Allah, inginku cukup rasa cinta. Masalah pacar atau apapun itu biarlah jadi yang kedua. Karena sudah banyak hati yang kusakiti karena aku belum bisa menerima dengan alasan tidak cinta.

Dear Allah, engkau Maha Pemilik hati. Ar Rahman dan Ar Rahim. Engkau Maha mengetahui isi hati. Engkau yang Maha tau tentang hidup, mati, jodoh dan rizqi. Aku hanya meminta padaMu ya Allah. Jaga hatiku. Tata hatiku. Labuhkan pada lelaki tulus yang juga mencintaMu. Labuhkan pada lelaki yang bersedia menjaga hatiku. Menjaganya ya Allah, Bukan menyakitiya :'(

Malam 29 Mei kemarin

Malam 29 Mei aku masih resah. Kebayang alm. Ayah mas Hasan.
Aku juga gatau pastinya sejak kapan. Aku juga gatau pastinya apa aku pernah benar2 mimpi bertemu atau bayang2 alam bawah sadarku.

Emmm yang jelas, hampir setiap hari dan setiap malam aku kebayang Ayah mas Hasan senyum lihat aku.
Udah lama sebenernya pengen ke makam. Bahkan sejak pertama dikasih tau kalo sudah meninggal :(
Tapi aku terlalu gengsi buat sms mas Hasan duluan. Aku gengsi kalo2 aku dikira pengen cari2 alasan buat ketemu dia. Gengsi kalau dikira aku ngejar2 dia.
Akhirnya malem itu aku curhat sama Arbi, dia bilang "kamu mentingin gengsi apa tenang?" kata2 itu yang bikin aku berfikir. Oh yaudahlah sms aja. Toh aku niatnya cuma pengen ziarah ke Ayahnya, bukan caper ke anaknya. Gitu doang :)

Paginya, aku ke makam sama mas Hasan. Ya berdua. Salting emang, tapi biasa aja sih. Dan... Emmm sedikit kangen :(
Dimakam, aku minta Allah sampein pesan aku buat ayahnya mas Hasan. Kira2 gini:
"assalamualaikum bapak, ini Bella. Bapak, Bella minta maaf kalau selama hidup bapak Bella banyak salah. Kita belum sempat dipertemukan, maaf :'(. Bapak, mungkin emang bapak bukan Ayah kandung bella. Tapi setidaknya Bella pernah sayang sama bapak dan bapak juga pernah peduli sama Bella.
Bapak, sekali lagi Bella minta maaf. Bella harap bapak bahagia sama Allah. Semoga segalaa amal ibadah bapak, kebaikan bapak diterima sama Allah.
Bapak, Bella gatau kapan bisa kesini lagi. Bella juga gatau apa Bella kelak akan jadi anak bapak. Tapi bella tetep berdoa kok :)
Bapak, Bella pamit ya... Bapak baik2 disini.
Dan Allah, jaga beliau. Sayangi beliau. Terima segala kebaikannya dan maafkan segala khilafnya
Aamiin aamiin aamiin"

Pulang darisitu tenang? Yah, sedikit. Tapi ada rasa ingin kembali kesitu. Insyaallah, semoga bisa kembali :)
Bapak bahagia ya disana, Bella Insyaallah juga akan mendoakan bapak. Bella boleh panggil bapak dengan sebutan 'bapak' juga kan? :'( :)

Jumat, 20 September 2013

When I Sad, I Try to Write it Off

Hai Morning... :)
Aku boleh sedih ga? boleh cerita sedih? boleh berbagi sedih? boleh ya? boleh kan? :'(
Aku pernah ga cerita sekarang aku di BEM?
Ya, sekarang. Maksud aku Tahun ini!!
Di tahun ketigaku di BEM aku diposisikan menjadi Menko Eksternal. Happy? not really
Entah ya, rasanya lebih nyaman disuruh-suruh waktu jadi Wamen daripada gini... Manusia ga pernah puas, ya.. Ga akan pernah!
Bukan keinginan aku ada di posisi ini. Bukan impian aku juga!
Aku rindu ketika aku harus ribet ngurus keaktifan eksmud. Harus sakit hati ketika statement ku dibantah. Tapi sungguh, sungguh aku rindu itu. Aku pun rindu dikala mereka memanggilku dengan sebutan sayangnya. Tidak hanya memanggil. Bahkan menganggap.
Aku rindu ketika aku harus meluangkan waktuku untuk menjadi bahu. Menjadi tempat cerita mereka. Aku rindu ketika kita bisa tertawa bersama. Yah seperti keluarga, seperti itu.

Dear Allah, aku tau ikhlas itu harus dilatih. Maka mudahkanlah aku dalam mengikhlaskan amanahku. Jauhkan aku dari rasa Iri, rasa kembali pada masa lalu. Buatlah aku bergerak. Berlari bahkan!
Dear Allah, perbanyaklah rasa cintaku. Perluaslah keikhlasanku. Meski aku tak bisa lagi sedekat mereka seperti dulu. Biarkan hati ini tetap mencintai dengan tulus. TULUS yaa Allah....

Dear Allah, maaf. Sungguh. Aku terlalu sering mengeluh. Aku terlalu sering menangis. Itu semua karena aku hanya nyaman berada denganMu. Yaa... DenganMu :*